
Play/Download
Sejak pertemuan pertama antara Pak Tanba dan Ayu Dyah,
mereka jadi sering bertemu. Tapi tentu saja urusan antar mengantar
antara sopir taksi dan penumpangnya. Bagi Pak Tanba pertemuan dengan Ayu
Dyah, gadis muda cantik jelita itu adalah impiannya. Lelaki Ambon
berusia 48 tahun yang besar, hitam dan gendut itu merasa pertemuannya
dengan Ayu Dyah membuatnya kembali bergairah. Pak Tanba yang sudah lama
tak mendapat jatah seks dari istrinya yang tua, merasa amat bergairah
dengan Ayu Dyah yang muda dan cantik, serta lebih pantas jadi anaknya.
Di sisi lain, Ayu Dyah yang mendapat pengaruh seksual dari Cincin
Perawan, amat senang bertemu dengan Pak tanba. Setiap kali bertemu
dengan pria tua itu, ia merasa amat bergairah. Ia mencari wkatu yang
tepat untuk mengungkapan keinginnanya menyerahkan keperawanannya dengan
lelaki Ambon hitam besar itu. Dari Selasa hingga Jumat, setiap hari
mereka bertemu. Pak Tanba mengantar kemanapun gadis muda itu pergi. Baik
ke kampus ataupun tempat aktivitas lain. Pak Tanba seolah menjadi sopir
pribadi yang hanya mengantar Ayu Dyah.
Tak masalah sebenarnya, mengingat Ayu Dyah yang kaya selalu bisa
membayarnya dengan uang yang besar. Namun, Pak Tanba sebenarnya rela
mengantar Ayu Dyah kemanapun ia pergi tanpa dibayar. Ia hanya ingin
dekat dengan gadis muda itu, memandangi kecantikan dan keseksian
tubuhnya, mencium aroma tubuhnya yang harum. Setiap pulang ke rumah,
usai mengantar Ayu Dyah, Pak Tanba selalu coli dan mengeluarkan air mani
sambil membayangkan gadis muda itu. Penis besar hitam milik Pak Tanba
selalu tegang bila berada di dekat Ayu. Sampailah masa di hari Jumat,
hari yang bersejarah bagi Pak Tanba maupun Ayu Dyah. Malam itu, sekitar
pukul 20:30, Pak Tanba menjemput Ayu Dyah dari kegiatannya. Mereka
bercanda tawa di dalam taksi. Ayu Dyah duduk di samping Pak Tanba di
kursi depan taksi.
“ Bapak lucu sekali deh. Nggak nyangka tampang yang serem ternyata lucu, “ ujar Ayu Dyah.
Pak Tanba hanya tersenyum puas. Ia bahagia melihat senyum bahagia dari gadis cantik itu.
“ Saya memang senang bergurau non. Itu sebabnya istri saya suka sama saya, “ ujar Pak tanba merendah.
“ Pak jangan panggil non dong. Panggil nama saja, ya” ujar Ayu Dyah terdengar manja.
“ eeh i..iya non, “ ujar Pak Tanba gugup.
Ia tahu bahwa Ayu Dyah anak tunggal keluarga kaya yang manja. Tapi
tingkah lakunya hari ini sangat berbeda. Ia tidak segan-segan mencubit
lengannya, saat tertawa mendengar candaan Bapak sopir taksi yang pantas
jadi ayahnya ini.
“Pak masih sore. Temenin nongkrong di taman ya, “ cetus Ayu Dyah.
Pak Tanba kaget.
“ Lah non, eh , Ayu Dyah nggak malu nongkrong di taman sama bapak yang
tua, item, gendut, jelek, pincang ini? “ tanya Pak tanba kaget.
“ Ih kenapa sih pak. Aku marah loh kalo bapak nggak mau, “ jawab Ayu Dyah merajuk.
Pak Tanba tentu amat senang menghabiskan waktu dengan AYu Dyah yang
sudah menjadi khayalannya selama ini. Tapi ia tidak menyangka bahwa sang
gadis cantik mengajaknya berduaan di taman. Taksi pun lalu menuju
sebuah taman di pinggiran Jakarta Selatan. Saat itu habis hujan, jadi
taman terlihat sepi. Hanya terlihat beberapa orang dan pasangan yang
bermesraan.
Setibanya di taman, tanpa ragu Ayu Dyah menggandeng tangan
Pak Tanba. Lelaki Ambon hitam besar sedikit gendut ini kaget akan
tingkahnya. Tapi ia senang dan menggengam balik tangan mungil gadis itu.
Setelah membeli minuman ringan, Ayu Dyah mengajak Pak Tanda duduk di
sebuah kursi taman yang agak terpojok yang dihalangi rerimbunan pohon.
Suasana sepi, hanya mereka berdua. Mereka lalu bercerita ringan, dengan
diselingi canda tawa. Ayu Dyah terlihat makin manja dengan Pak Tanba.
“ Pak terima kasih ya sudah menemani saya selama ini, “ ujar Ayu Dyah tiba-tiba serius.
Gadis muda cantik ini menatap wajah Pak Tanba. Lelaki tua hitam besar
ini merasa kaget dan terkejut. Ia hanya tersenyum dan refleks membelai
rambut hitam sebahu milik Ayu Dyah.
“ Bapak juga senang non. Non Baik dan ramah. Malah mau berduaan dengan
pria tua jelek seperti bapak, “ jawab Pak Tanba sembri membelai rambut
Ayu Dyah.
Gadis itu tertunduk malu, seperti gadis muda yang kena panah asmara. Ia Tertunduk dan merajuk.
“ Tuh kan bapak. Panggil nama aja sih, “ rajuk Ayu Dyah manja.
Melihat itu Pak Tanba ingin memeluk dan mencium gadis muda itu. Tapi
rasa percaya dirinya sebagai pria paruh baya sopir taksi berkulit hitam
asal Ambon, membuatnya mengurungkan niatnya.
Lalu terjadilah sebuah reaksi tak terduga dari Ayu Dyah. Tiba-tiba gadis
muda itu menaruh mukanya ke dada bidang berotot Pak Tanba. Tubuhnya ia
rapatkan ke tubuh gendut lelaki itu. Pak Tanba kaget. Jantungnya
berdebar. Meski ia sudah beberapa hari ini berkhayal menyentuh tubuh Ayu
Dyah, ia tak menyangka reaksinya seperti ini. Apa yang dilakukan gadis
muda cantik itu semakin membuat Pak Tanba terkejut. Ayu Dyah semakin
merapatkan tubuhnya ke tubuh besar gendut Pak Tanba dan memeluknya.
Kepalanya ia benamkan di dada dan perut buncit tua itu. Ayu mencium bau
parfum murahan Pak Tanba, yang baru sering pake parfum setelah bertemu
gadis cantik ini. Ayu memeluk tubuh Pak Tanba erat, seolah ingin
mendapatkan kehangatan. Beberapa saat Pak tanba hanya diam, jantungnya
berdebar kencang. Ayu bisa merasakan debaran jantung Pak Tanba itu. Ia
mendongakkan kepala menatap wajah Pak Tanba, sembari tersenyum.
“ Pak Tanba kok deg-degan. Bapak nggak mau meluk balik Ayu ya? Dingin
pak,” ujar Ayu Dyah mengeluarkan suara khas gadis muda yang manja.
Pak Tanba menatap wajah cantik gadis muda itu. Ia tersenyum lalu mulai
melingkarkan tangannya yang hitam, besar, berbulu ke tubuh mungil Ayu.
Mereka berpelukan beberapa lama. Makin lama jantung Ayu maupun pak Tanba
semakin berdegup kencang. Ayu merasa inilah saat yang tepat untuk
meminta Pak Tanba menjamah tubuhnya. Ia lalu meregangkan pelukannya dan
menatap wajah Pak Tanba sembari berkata.
“ Pak, enak banget dipeluk bapak. Ayu boleh minta sesuatu?” ujarnya manja.
Pak Tanba terdiam. Ia tertegun, tak menyangka. Lalu dengan suara berat menahan nafsu, ia berkata.
“ Ayu boleh minta apa aja ke bapak, “ ujar sopir taksi tua itu
tersenyum, sembari tangannya membelai rambut Ayu, bak sepasang kekasih
di mabuk asmara. Ya , memang mereka tengah mabuk. Mabuk birahi.
Ayu tersenyum amat manis.
“Dari pertemuan pertama dengan bapak, Ayu sebenarnya pengen nyium pipi bapak, “ ujar Ayu.
Pak Tanba kaget, namun senang. Dalam hati ia merasa bahwa
khayalannya selama ini tidak bertepuk sebelah tangan. Tapi sebagai
lelaki dewasa yang berpengalaman, ia mencoba menahan hasratnya.
“ Kenapa Ayu?Ayu masih muda dan cantik. Kenapa mau cium bapak yang sudah
tua ini?” tanya Pak tanba dengan suara berat, namun dalam intonasi
lembut.
“ Nggak tahu pak. Saya suka saja sama bapak, “ jawab Ayu yang tanpa
bicara lagi kemudian mencium pipi kanan Pak tanba dengan lembut.
Hati Pak Tanba semakin deg-degan. Bibir lembut ranum itu mencium pipi
kanannya, lalu pipi kirinya, masing-masing sebanyak dua kali. Seusainya
mereka saling bertatapan lama. Suasana sepi dan dingin, hanya mereka
berdua. Kemudian wajah mereka saling mendekat. Lalu apa yang diinginkan
Pak Tanba terjadi. Ayu Dyah lalu mengecup bibir hitam Pak Tanba dengan
lembut. Dan lama. Pak Tanba terdiam, sejenak ia hanya membiarkan bibir
ranum gadis muda itu mengecup bibirnya dengan lembut. Seiring waktu dan
insting, Pak Tanba lalu membalas ciuman gadis muda itu. Awalnya pelan,
lalu keduanya saling pagut. Keduanya berpelukan amat erat di tengah hawa
dingin sehabis hujan. Pak Tanba lalu melumat bibir ranum Ayu Dyah
dengan lembut, lalu berubah dengan penuh nafsu. Pak Tanba lalu
mengeluarkan lidahnya, berusaha memasuki rongga bibir Ayu Dyah. Ayu Dyah
pun membalas. Lidah mereka saling bertemu dan mereka berciuman dengan
panuh nafsu. Lidah mereka saling melilit dan air ludah mereka tercampur ,
hingga menetes ke pipi masing-masing. Mereka saling berciuman amat
panasnya, nafas mereka mulai terengah-engah karena nafsu. Kedua tangan
Ayu Dyah lalu memegang wajah hitam milik Pak Tanba. Tangan kokoh Pak
Tanba tetap memeluku tubuh indah Ayu. Keduanya berciuman lama, nafsu pun
semakin membuncah. Pak Tanba merasa impiannya selama ini terkabulkan.
Dan ia tidak menyangka. Dengan rakus ia menjilati lidah Ayu,
menghisapnya. Penis Pak Tanba pun semakin tegang. Saat suasana semakin
memanas, Pak Tanba melepaskan pelukannya, dan kedua tangannya mulai
meraba buah dada Ayu. Ayu semakin menggelinjang mendapat sentuhan itu.
Tangan Pak Tanba semakin meremas pelan kedua payudara sekal Ayu dari
luar pakainnya. Ayu menndesah, dan mulutnya terbuka. Tapi desahannya
tertahan oleh lumatan mulut Pak Tanba. Mendapat lampu hijau, Pak Tanba
lalu mulai berani mengalihkan ciumannya ke pipi Ayu. Pipi putih bersih
itu dijilatnya. Lalu lidahnya memasuki telinga kiri Ayu, menjilatinya
dengan penuh nafsu. Telinga itu diciumi dan dijilati dengan rakus.
“Ooh paak.. Geli..” desah Ayu.
Pak Tanba semakin semangat. Ia lalu mulai menciumi leher jenjang gadis
muda itu dengan rakus. Pak Tanba juga menjilat dan menghisap leher
jenjang yang berbau harum itu. Nafsu Ayu Dyah semakin tak terkontrol. Ia
mendesah keenakan. Matanya terpejam meresapi setiap rangsangan dari
lelaki Ambon tua hitam besar itu. Ia memegang kepala Pak Tanba dan
meremas kepala botaknya. Dengan Pak Tanba yang secara aktif menciumi dan
menjilati lehernya, serta tangan lelaki tua itu meremas lembut
payudaranya, Ayu Dyah semakin kehilangan kekuatannya.
“OOhh aaah.. Pak gelii.. tapi enak, “ desahan keluar dari mulut gadis
muda cantik itu mendapat perlakuan lidah dan mulut Pak Tanba.
Pak Tanba semakin beringas. Ciuman dan jilatan lelaki Ambon ini semakin
turun ke bawah menuju dada. Kedua tangan yang tadinya meremas payudara
Ayu, mencoba membuka kancing kemeja gadis muda itu.
Namun, Ayu masih sadar bahwa mereka melakukan rangsangan di taman
terbuka. Gadis muda ini menahan gerak tangan Pak Tanba yang sudah
berhasil membuka dua kancing atas kemejanya.
“ Pak jangan..” ujar Ayu dyah dengan nafas tersengal karena nafsu.
Pak Tanba berhenti. Nafsu yang selama ini ditahannya, hampir membuatnya
melakukan hal yang lebih jauh. Pria berusia 48 tahun ini memandang wajah
gadis cantik di depannya. Ia menatap dengan mata tajam, namun menahan
birahi yang amat sangat.
Dengan suara berat dan nafas terengah karena nafsu, Pak Tanba meminta maaf.
“Maaf Ayu. Bapak sudah kelewatan batas. Bapak pikir Ayu suka dan
memberikan kesempatan. Lagian bapak sudah lama tidak dekat dengan
wanita, apalagi gadis secantik Ayu, “ ujar Pak Tanba.
Ayu tersenyum mendengar permintaan maaf Pak Tanba. Meskipun bertampang
seram dan macho, tetapi Pak Tanba amat sopan dan memperlakukan wanita
dengan amat lembut. Ayu memang sudah amat terangsang, tapi ia masih
mampu mengontrol dirinya.
“ Aku memang suka dengan Pak Tanba. Ayu senang banget kok dengan ciuman
bapak tadi. Tapi ini taman terbuka pak. Aku ingin melakukannya di tempat
yang sepi, pribadi dan tidak diganggu oleh siapapun, “ jelas Ayu
sembari membelai wajah hitam Pak Tanba.
Ayu pun kemudian mencium bibir Pak Tanba. Pak Tanba tertegun. Ia menelan
ludah mendengar perkataan Ayu. Dalam hatinya ia bertanya apakah
akhirnya ia bisa meniduri gadis muda ini? Tetapi untuk memastikannya,
Pak Tanba bertanya pada Ayu.
“ Maksud Ayu apa?” jantung pak tanba berdegub kencang saat menanyakan hal itu.
Ayu kembali tersenyum. Ia lalu mencium pipi kanan lelaki tua itu, lalu berbisik di telinganya.
“ Ayu ingin ngajak bapak ke rumah Ayu sekarang. Ayu pengen bapak tidur
di rumah Ayu dan Ayu pengen nyerahin tubuh Ayu ke bapak malam ini, “
bisik Ayu dengan suara seksi menahan gairah.
Mendengar itu Pak Tanba seolah mendapat durian runtuh. Apa yang
dikhayalkannya selama ini menjadi kenyataan. Ia akan menikmati tubuh
gadis muda cantik dan menyarangkan penis hitam besarnya ang sudah tidak
lama tidak digunakan ke vagina gadis ini. Akan tetapi pria Ambon ini
masih ingin memastikan segala sesuatunya. Meski penisnya sudah tegang
penuh, namun ia ingin menjamin bahwa gadis muda ini melakukannya dengan
sadar. Pak Tanba tidak mau nanti dituduh memperkosa gadis yang usianya
terpaut 26 tahun dengannya ini.
“ Tapi Ayu yakin? Bapak ini tua dan jelek. Sopir taksi lagi. Sedangkan
Ayu masih muda dan cantik, pantes jadi anak Bapak. Ayu juga masih
perawan, kan?” tanya Pak Tanba berhati-hati, meski suaranya menahan
antusias dan nafsu membara.
Ayu tersenyum lagi. Ia lalu mencium bibir hitam Pak Tanba dan melumatnya, meski bau rokok tercium dari mulut kekasih tuanya ini.
“ Iya pak. Ayu masih perawan dan Ayu ingin memberikan keperawanan Ayu ke
Bapak. Ayu sama sekali nggak keberatan. Malah Ayu ingin bertanya, bapak
selama ini belum pernah selingkuh. Apakah bapak rela menyelingkuhi
istri dan anak bapak?” tanya Ayu sambil menatap wajah hitam lelaki tua
di depannya.
Bayangan akan anak istri kemudian melintas di benak Pak Tanba. Selama
ini ia berusaha untuk tidak menyeleweng. Namun, gadis muda cantik di
depannya terlalu sayang untuk dilewatkan. Terlebih penisnya yang sudah
tegang butuh pelampiasan setelah lama hanya dipakai coli. Lagipula pria
tua ini akan mengalami malam pertama, merobek kegadisan seorang wanita,
sesuatu yang terakhir dilakukannya 28 tahun lalu. Akhirnya nafsu pun
mengalahkan iman Pak Tanba. Ia lalu tersenyum, menciumi dengan lembut
Ayu Dyah. Keduanya lalu berpagutan dan lidah mereka saling membelit.
“ Bapak akan telpon rumah dan bilang akan ada urusan sampai besok. Bapak
akan memuaskan Ayu malam ini dengan punya bapak, “ jawab Pak Tanba
lembut, lalu melumat bibir Ayu, lalu membimbing tangan mungil Ayu ke
selangkannya.
Ayu kaget sewaktu memegang selangkangan Pak Tanba yang
sudah menegang maksimal. Meski hanya meraba dari luar celana, ia tahu
bahwa penis Pak Tanba amatlah besar. Meski ia yakin dengan fungsi Cincin
Perawan yang diberikan Mak Endeh, Ayu tetap takut bahwa penis Pak Tanba
akan merobek vaginanya yang belum pernah tersentuh sebelumnya.
“ Pak, Ayu kan belum pernah bersetubuh sebelumnya. Punya bapak ini gede banget. Nanti sakitkah?” tanya Ayu polos.
Pak Tanba tersenyum,memamerkan giginya yang putih. Ia sadar bahwa penis
besarnya akan bisa menyakiti vagina Ayu yang masih perawan. Sesuatu yang
dialami istrinya 28 tahun lalu, saat malam pertama. Tapi, nafsu membuat
Pak Tanba harus segera menuntaskannya segera.
“ Tenang saja Ayu. Penis bapak memang gede, tapi bapak akan buat Ayu
nyaman dan enak, “ bisik Pak Tanba lembut di telinga Ayu, sembari
melumat telinga itu.
Ayu yang memang sudah basah di vaginanya, terbuai oleh rayuan lembut Pak
Tanba. Sembari mengelus celana Pak Tanba, ia tersenyum dan mengangguk.
Keduanya lalu beranjak dari bangku taman dengan saling bergenggaman
tangan, mnujui taksi Pak Tanba. Dalam pikiran mereka berkecamuk khayalan
liar akan kenikmatan yang akan segera diperoleh. Pak Tanba lalu
mengemudikan taksinya menuju rumah Ayu Dyah. Ketika melewati sebuah toko
obat, Pak Tanba menghentikan mobilnya.
“ Pak kok berhenti?” tanya Ayu.
Pak Tanba tersenyum.
“ Bapak mau beli kondom. Ini kan malam pertama Ayu. Bapak nggak pengen
nanti ngeluarin mani bapak di dalam vagina Ayu dan Ayu jadi hamil karena
bapak, “ jawab pak Tanba, meskipun pria tua ini sebenarnya ingin
menikmati darah perawan Ayu tanpa terhalang oleh kondom. Pria besar
hitam ini merasa kenikmatan seks akan terganggu bila menggunakan kondom.
Tapi ia tidak mau merusak masa depan gadis cantik di depannya ini lebih
jauh, bila ia hamil akibat benih lelaki sepertinya.
Ayu kemudian memegang tangan Pak Tanba dan menghalangi niat lelaki tua tersebut.
“ Ayu pengen ngerasain malam pertama dengan bapak tanpa pake kondom pak,
“ jawab Ayu mantap. Ia yakin akan Cincin Perawan yang dikenakannya.
“Ayu yakin? Nggak takut hamil?”, meski senang Pak Tanba sebenarnya bukan tipikal pria hidung belang tak bertanggung jawab.
“ Sangat yakin pak. Bapak bisa keluarin air mani bapak di dalam tubuh Ayu nanti. Ayu nggak bakal hamil, “ jawab Ayu mantap.
Pak Tanba tersenyum. Pria tua itu lalu mencium bibir Ayu dengan penuh
sayang, lalu memacu mobilnya ke rumah ayu. Sesampainya di rumah Ayu,
mobil taksi Pak Tanba masuk ke garasi rumah Ayu.
Keduanya langsung menuju ruang tamu. Rumah itu sepi, karena hanya Ayu yang menempatinya.
Pak Tanba merasa canggung. Ia terlalu berdebar dan gugup karena ingin
merenggut keperawanan seorang gais muda cantik kaya raya ini. Ia
bengong, hingga Ayu memeluk tubuhnya dan menyadarkan pria Ambon ini.
“ Pak, kok bengong? Yuk masuk ke kamar Ayu. Tapi Ayu mandi dulu ya. Biar wangi, “ ucap Ayu manja.
Pak Tanba tersenyum, lalu dengan terseok karena kaki pincangnya, lelaki
bertubuh hitam besar ini mengikuti gandengan tangan Ayu ke kamarnya.
Kamar Ayu luas, nyaman dan ber-AC, serta harum. Ada televisi berukuran
besar, stereo set, wallpaper mewah, serta kamar mandi di dalam. Jauh
bila dibandingkan dengan rumah milik Pak Tanba yang kecil, di mana hanya
ada 3 kamar. Kamar Pak Tanba dan istrinya pun hanya sepertiga bila
dibangdingkan dengan kamar Ayu.
“ Bapak menunggu di ranjang ya. Bapak bisa ambil minuman di kulkas,
kalau bapak haus. Sabar sebentar ya. Ayu ingin bersih dan harum,” ujar
Ayu manja.
“ Nggak usah mandi juga nggak apa2 Ayu. Bapak juga belum mandi dan bau, “ jawab Pak Tanba yang nafsunya sudah di ubun-ubun.
“ Ayu memang suka bau badan bapak sebelum mandi. Seksi, “ jawab Ayu genit sambil tersenyum.
Pak Tanba pun balas tersenyum dan mencium pengantin wanitanya yang masih amat muda ini.
Ayu lalu masuk ke kamar mandi, sementara Pak Tanba duduk menunggu di
atas ranjang empuk milik Ayu. Pikiran kotor Pak Tanba sudah melayang
kemana-mana. Ia lalu menuju kulkas di dalam kamar, mengambil sebotol air
mineral dingin untuk menghilangkan haus dan mentralisir nafsu
birahinya. Pak Tanba lalu melucuti pakaian seragam sopir taksinya,
berikut celananya. Tubuh hitam besar berbulu milik Pak Tanba kini hanya
ditutupi oleh celana dalam usang, yang memperlihatkan tonjolan penisnya
yang sudah sedikit melemas. Namun, masih terlihat gagah dan besar. Ia
lalu teringat belum menghubungi istrinya di rumah. Pak Tanba masih
merupakan pria bertanggung jawab, meski sebentar lagi ia akan bersetubuh
dengan wanita lain. Dari dalam kamar mandi terdengar suara air Ayu Dyah
yang sedang mebersihkan diri untuk Pak Tanba..Pak Tanba lalu mengambil
ponsel tuanya, lalu menelepon ponsel anak bungsunya. Jam sudah
menunjukkan pukul 22 lewat 13 menit. Nada sambung terdengar dan ada
suara anak perempuan menjawab.
“ Iya pak?” ujar suara anak perempuan bungsu Pak Tanba.
“ Ibumu belum tidur? Bapak nggak pulang malam ini. Ada penumpang yang
minta antar ke luar kota. Sayang uangnya. Sampaikan kepada ibumu ya, “
jelas Pak Tanba kepada anaknya, dengan suara yang dibuat senormal
mungkin.
“ Oh gitu pak. Ibu masih di rumah tetangga bantu hajatan. Ya udah, nanti
disampein ke ibu. Bapak hati-hati ya, “ sambung suara di ujung telepon.
“ Iya, “ Pak Tanba lalu menutup sambungan telepon.
Suara anak bungsunya yang kini berusia 25 tahun sempat membuat Pak Tanba
bersalah. Untuk pertama kalinya selama 28 tahun, ia berbohong kepada
anak istrinya. Padahal saat ini ia berada di sebuah kamar miliki gadis
muda yang usianya lebih muda dibandingkan anak bungsunya itu. Ia hanya
bercelana dalam, memamerkan tubuh hitam besarnya yang sudah mulai
membuncit, serta ingin menikmati nafsu birahi bersama gadis muda yang
pantas jadi anaknya.
Ada keinginan Pak Tanba untuk mengurungkan persetubuhannya
dengan Ayu Dyah. Ia juga tak ingin merusak keperawanan gadis muda, meski
ia amat menginginkannya beberapa hari ini. Pria tua berkepala botak ini
sempat bimbang. Ia duduk di tepi tempat tidur, berusaha
menimbang-nimbang. Namun akal sehat Tanba buyar, saat suara kamar mandi
terbuka dan Ayu Dyah muncul dalam balutan kimono mandi yang mewah. Dari
tubuhnya memancar keharuman yang menggiring birahi Pak Tanba kembali.
Ayu Dyah terlihat amat cantik dan segar, bak bidadari. Kesegaran yang
sebentar lagi akan direnggut oleh penis besar hitam Pak Tanba yang kini
mulai kembali bangkit. Ayu menghampiri ranjang dan mengambil botol
minuman air mineral milik Pak Tanba. Ia meminumnya. Bibirnya yang ranum
dan mungil amat menggairahkan. Pak Tanba meneguk air liurnya, masih
tidak percaya bahwa lelaki tua sepertinya akan mendapatkan keperawanan
seorang gadis belia cantik. Ayu lalu duduk di samping Pak Tanba di tepi
ranjang.
“ Pak Tanba udah siap ya. Badan bapak seksi, “ ujar Ayu menggoda.
“ HAhaha, Tubuh gendut hitam ini dibilang seksi, “ ujar Pak Tanba tertawa.
“ Tapi yang dibalik celana dalam itu keliatan masih muda, “ jawab Ayu mengerlingkan mata.
Pak Tanba mendekati Ayu. Ia mencium dan melumat bibir gadis muda itu.
Mereka berpagutan, bertukar lidah dan air liur. Nafas Ayu yang segar
sehabis mandi bertemu dengan nafas bau rokok milik Pak Tanba. Rongga
mulut gadis muda dipenuhi oleh lidah kasar Pak Tanba.
“ Ayu bener-bener yakin mau tidur sama bapak?” tanya Pak Tanba sekali lagi, meyakinkan keberuntungannya.
Ayu tidak menjawab. Ia hanya mencium dan melumat mulut lelaki Ambon itu
dan menariknya ke tempat tidur. Keduanya berciuman dengan penuh nafsu.
Segera saja terdengar desah nafas keduanya yang menggema di seantero
kamar. Hilang sudah kesadaran Pak Tanba, yang diinginkannya saat ini
adalah menuntaskan birahinya dan gadis muda di pelukannya. Pak Tanba
segera menindih tubuh mungil dan ramping Ayu Dyah yang masih terbungkus
kimono. Ayu merasa sesak akibat ditindih tubuh lelaki hitam yang besar
itu. Keduanya bercipokan, saling memagut dengan nafsu. Pak Tanba yang
sudah berpengalaman berusaha membimbing Ayu Dyah. Ia dengan tenang
meladeni setiap ciuman dan hisapan lidah gadis muda itu. Segera saja
ciuman dan jilatan lidah Pak Tanba turun ke leher Ayu. Gadis muda itu
memegangi kepala Pak Tanba sembari mendesah penuh nikmat. Ciuman dan
jilat lembut Pak Tanba yang berpengalaman, membuat Ayu yang baru pertama
kali melakukan hubungan seksual, bagai dilambung ke awing-awang.
“ sssttt..aaahh.. Pak.. enak, “ begitu desah Ayu.
Pak Tanba makin semangat. Ciuman dan jilatannya semakin turun ke arah
dada gadis muda itu. Tidak seperti saat di taman, kali ini Ayu pasrah
seutuhnya. Pak Tanba lalu melepas ikatan kimono mandi yang dikenakan
Ayu. Segera saja terpampag tubuh mulus Ayu Dyah, yang ternyata sudah
tidak memakai apapun di baliknya. Pak Tanba tertegun. Mata lelaki Ambon
tua bertubuh hitam besar itu melotot melihat pemandangan indah di
depannya. Tubuh Ayu Dyah putih bersih, tanpa cacat. Dua payudaranya yang
berukuran sedang terlihat ranum dengan puting berwarna merah jambu yang
bertengger indah. Tubuh Ayu memang ramping dan indah, bak gitar
Spanyol. Lekuk teubuhnya sempurna. Paha dan kaki Ayu Dyah juga amat
sangat indah dan mulus. Bersih dan putih. Yang membuat Pak Tanba tambah
terangsang adalah saat melihat vagina Ayu yang masih rapat. Vagina
seorang perawan. Bibir vaginanya tertutup sempurna, tanpa dihiasi bulu
kemaluan. Ayu terlihat sangat merawat tubuhnya. Jauh beda dengan tubuh
istri Pak Tanba saat diperawani dulu. Istrinya adalah gadis desa yang
kurang terawat. Amat beda dengan Ayu Dyah yang gadis kaya. Melihat Pak
Tanba tertegun, Ayu Dyah heran.
“Kenapa Pak? Nggak suka dengan tubuh Ayu?” si gadis perawan bertanya dalam suara yang terdengar menahan nafsu dan juga malu.
“ bu..bu..bukan. Kamu snagat cantik dan sempurna Ayu. Bapak masih nggak
percaya akan ngentot dengan Ayu, “ ujar Pak Tanba yang karena nafsunya
sudah di ubun-ubun melontarkan kalimat vulgar.
Ayu justru senang mendengarnya. Ia lalu membuang kimono mandinya ke
bawah lantai dan membuka lebar kakinya. Terpampanglah vagina indah milik
sang gadis. Penis Pak Tanba semakin tegang.
“ Ayu udah siap pak, “
Kata-kata itu menyadarkan Pak tanba untuk segera menikmati tubuh indah
itu. Ia lalu menindih tubuh Ayu, melumat bibirnya dengan penuh nafsu.
“ ahhh’ begitu suara desahan yang keluar dari mulut keduanya.
Kduanya lalu bergumul di atas tempat tidur yang sudah segera saja
acak-acakan. Meski amat bernafsu, Pak Tanba ingin memberikan keindahan
seksual pada gadis muda perawan ini. Ia menciumi dan menjilat mulut Ayu
dengan lembut. Sang gadis membalasnya dengan bernafsu, namun selalu
diatur oleh Pak tanba. Pak Tanba juga menjilati telinga Ayu, lehernya
dan memberikan cupangan-cupangan kecil di leher jenjang itu. Pak Tanba
yang berpengalaman jelas mampu mengontrol gejolak nafsu sang gadis muda.
“ ahh paak …gelii..enakkk” erang Ayu saat Pak Tanba mernjilati dan
mnciumi lehernya. Tangan gadis itu mencengkram kepala botak pak Tanba.
Pak Tanba, meski amat bernafsu, berusaha menenangkan Ayu.
“ ssst.. sabar Yu. Nikmatin saja, “ bisik lelaki hitam besar itu meski terdengar menahan nafsu.
Desahan Ayu semakin keras, saat kedua tangan Pak Tanba meremas kedua
payudara perawan gadis itu. Sembari menciumi lehernya, tangan Pak Tanba
aktif meremas kedua buah dada ranum Ayu dengan lembut. Tidak puas
meremas, mulut dan lidah Pak Tanba mulai turun ke dada. Daging sekal
putih nan ranum itu diciumi. Lalu lidah Pak Tanba mulai menjilati kedua
putting merah muda itu. Pak Tanba juga mengulum kedua payudara itu
bergantian, sembari lidah kasarnya menjilati kedua putingnya.
Hal ini semakin membuat Ayu lepas kontrol. Tubuhnya bergerak kesana kemari, menggeliat, sambil mendesah erotis.
“ Akkhhh.. Pak Tanba.. gelii…Enak..Oh Ayu udah nggak tahan, “ desah Ayu yang memegangi kepala botak pak Tanba.
Keringat Ayu mulai mengucur deras. Meski kamar itu ber-AC,
tidak cukup untuk meredam panas birahi yang dikobarkan oleh jilatan dan
sentuhan Pak Tanba. Ketika menjilati dan mengulum payudara Ayu, kedua
tangan besar hitam berbulu milik Pak Tanba mencoba menahan tubuh Ayu
agar tidak bergerak terlampau liar, karena tidak kuat menahan
rangsangan. Keringat pun mulai menngucur di tubuh Pak Tanba. Tubuhnya
yang hitam besar, terlihat mengkilat karena berusaha memuaskan Ayu.
Kuluman dan jilatan Pak Tanba memang lembut dan membuat Ayu terlena.
Pengalaman lelaki Ambon paruh baya ini dalam berhubungan seks amat
membantunya. Saat malam pertama dengan istrinya 28 tahun silam, Pak
Tanba masih belum berpengalaman dan kasar. Tapi kini, Pak Tanba mampu
membuat gadis perawan di depannya takluk. Jilatan Pak Tanba terus turun
ke perut dan pinggul. Dengan telaten ia menjilati setiap inci perut dan
pinggul gadis muda ini, sehingga membuat Ayu makin belingsatan. Aksi Pak
Tanba dihentikan sejenak. Kini ia melihat vagina perawan Ayu Dyah.
Dengan berdebar tangan Pak Tanba lalu membelai vagina itu. Perlahan jari
besar hitam milik lelaki tua ini membelai dan mengelus vagina Ayu. Jari
Tanba lalu mulai membuka lipatan vaginanya dan mencoba memasukannya ke
vagina Ayu.
“ akkccch paaak.. geliii, “ racau Ayu amat terangsang.
Vagina perawan itu mulai basah karena rangsangan Pak tanba sebelumnya.
Tangan Pak Tanba yang kiri mencoba menahan geliat Ayu, sementara jari
tengah dan telunjuk Pak tanba mulai menguak vagina sempit itu.
“ akkkkhhhh..” kali ini Ayu menjerit. Mukanya merah padam, matanya terpejam dan otot lehernya keluar menahan rangsangan..
“ ssst sabar.. bapak sedang bikin Ayu enak, “ jelas Pak Tanba coba menenangkan.
Dua jari tangan kanan Pak Tanba mulai mengulik lubang vagina sempit Ayu.
Pak Tanba mencoba menemukan kelentit Ayu, yang masih terseimpan dan
butuh rangsangan. Tangan kiri Pak Tanba menoba memegang paha kanan Ayu,
agar kakinya tetap terbuka dan ia bisa menemukan kelentitinya dengan
mudah. Tangan kekar hitam Pak tanba harus berjuang keras, karena Ayu
berusaha menutup kakinya agar tidak terbuka. Pak Tanba lalu meniup
vagina Ayu, yang membuat gadis ini tersentak. Dua jari Pak Tanba lalu
berhasil menemukan kelentit Ayu. Daging mungil berwarna merah muda itu
kemudian dibelai Pak Tanba, sembari sesekali dua jari itu mengocok
lubang vagina Ayu pelan dan lembut. Efeknya amat terasa bagi Ayu. Ia
mendesah dan menjerit.
“ Akkhhh.. paaaak.. Stoopp. Ayu nggak kuat, “ Ayu berusaha meronta.
Pak Tanba yang sabar mencoba makin meberikan rangsangan dengan menjilati
dan menciumi paha bagian dalam Ayu. Sembari menngocok dan memainkan
klentitnya. Ayu semakin histeris. Nafasnya semakin memburu. Ia merasa
gatal yang amat sangat di vaginanya, namun ia tidak bisa menggaruknya.
Pak Tanba semakin bersemangat. Kini sopir taksi itu malah menciumi dan
menjilati vagina, serta kelentit Ayu. Lelaki Ambon ini mendapati aroma
vagina Ayu sangat harum dan khas perawan. Perlakuan ini membuat Ayu
semakin histeris. Vaginanya semakin banjir oleh cairan dari dalam lubang
kenikmatan itu.
“ aaakkh paak sudaaaah, “ Ayu mengiba.
Pak Tanba bergeming. Ia sadar harus merangsang gadis muda ini agar
penisnya yang besar hitam mudah menembus vagina perawan ini nanti. Ia
juga tau, bahwa Ayu bentar lagi akan meraih orgasme pertamanya.
Ayu semakin merasa vaginanya berdenyut keras. Kocokan dan
sentuhan jari besar Pak Tanba di vaginanya, semakin membuat ia
belingsatan. Ia merasa bahwa vaginanya teamat gatal. Dennyutan dan
kontraksi dinding vaginanya semakin kuat. Tak lama Ayu pun merasa ia
seperti ingin pipis. Ia menjerit dan mendesah dahsyat, saat gelombang
orgasme pertamanya akan sampai.
“ AAAAAKKKH.. Pak Tanbaaaaa, “ tubuhnya melengkung ke atas, sedang
matanya terlihat hanya putihnya saja. Mulutnya terbuka dan …
crot…crot..crot.. cairan vagina Ayu menyemprot dengan keras. Membasahi
jari Pak Tanba, bahkan hingga ke muka lelaki Ambon itu.
Ayu meregang selama beberapa saat, meresapi orgasme pertamanya sebagai
wanita dewasa. Ia merasa lemas, tulangnya bagaikan copot. Tapi di sisi
lain, gadis muda ini merasa amat amat puas. Pak Tanba tersenyum puas
melihat Ayu meraih orgasme pertamanya dengan amat dahsyat. Banjir cairan
di vagina Ayu, membuat lelaki tua ini nantinya lebih mudah melesakkan
penis besarnya di ;ubang perawan itu.
Ia tidak menyesali cairan Ayu yang sampai membasahi mukanya. Baginya
cairan gadis perawan itu amat gurih. Ayu kemudian menoba menenangkan
dirinya. Tubuh putih mulusnya sudah basah oleh keringat. Nafasnya
tersengal-sengal. Pak Tanba lalu bangkit dari atas tempat tidur. Ia lalu
meraih minuman di atas meja, meneguknya, lalu ia menhampiri Ayu yang
masih terlentang meresapi kenikmatan orgasme pertamanya. Celana dalam
Pak Tanba sudah mennggembung maksimal, dan lelaki tua hitam ini
sebenarnya sudah tak tahan. Namun, ia sadar bahwa untuk menaklukkan
gadis perawan, tidak boleh tergesa-gesa. Harus sabar dan telaten. Pak
Tanba lalu memberikan gelas berisi air minum putih ke Ayu yang masih
lemas.
“ Ini Ayu minum dulu supaya segar, “ ujar Pak tanba dengan lembut.
Ayu bangkit dengan perlahan, mengambil air minum dan menegukknya. Segara
saja air itu membuat ia sedikit segar, namun masih lemas.
“ Ah Pak tanba, enak sekali pak. Ayu sampe lemas. Padahal bapak belum apa-apa, “ ucap Ayu.
“ Ayu emang harus bapak rangsang, supaya nanti nggak kesakitan waktu
barang bapak masuk ke lubang vagina Ayu, “ Pak Tanba mencoba menjelaskan
dengan lembut dan kebapakan.
Keduanya terdiam sesaat. Dingin AC segera membantu kesadaran Ayu pulih.
Pak Tanba lalu membelai rambut Ayu yang basah oleh keringat. Ia tahu
gadis ini butuh waktu untuk memulihkan diri. Karenanya Pak Tanba mulai
mencium kepala Ayu dengan sayang, mencium keningnya, lalu pundaknya.
Ciuman lembut dan sayang ini membuat gairah Ayu perlahan bangkit lagi.
Gadis ini mulai mendesah saat Pak Tanba menciumi dan
menjilati leher, serta telinganya. Ayu mulai mendesah nikmat. Melihat
ini Pak tanba segera membungkam mulut gadis muda ini dengan ciuman dan
cipokan. Keduanya segera berciuman dan bertautan lidah, saling bertukar
air liur. Tangan Pak Tanba pun kembali aktif membelai serta meremas
kedua payudara Ayu. Tak butuh lama, nafsu Ayu kembali pulih.
Ia kembali mendesah. Pak Tanba sekarang berusaha melepaskan celana
dalamnya. Penis besar hitam dengan panjang 19 cm itu segera saja
terlonjak dan mengangguk-angguk dengan gagahnya. Kepala penis yang bulat
dan besar bak jamur, itu tampak mengkilap. Ereksi penis Pak Tanba belum
maksimal. Karenanya lelaki Ambon itu lalu menciumi dan menjilati
telinga kanan Ayun Dyah. Sang gadis yang terangsang hebat, kemudian
mendengar bisikan Pak Tanba yang bergetar menahan nafsu.
“ Ayu, pegang dan kocok penis bapak ya..” pinta Pak Tanba.
Tangan kanan Pak Tanba lalu membimbing tangan kiri Ayu untuk memgang
penisnya. Ini pertama kalinya bagi gadis itu memegang kemaluan pria
dewasa. Dirasakannya penis lelaki tua Ambon ini amat besar, panjang,
lebar dan berdenyut-denyut seakan hidup. Ayu Dyah tampak gugup sewaktu
berusaha memegang penis besar hitam itu. Tapi Pak Tanba kembali
menjilati telinganya senbari berbisik.
“ Jangan takut sayang. Bapak akan bimbing kamu. Kocok yang pelan, “ ujar Pak tanba membimbing Ayu dengan sabar.
Ayu pun lalu berani menggenggam penis gagah itu dengan tangan kirinya.
Terlalu besar bagi tangannya yang mungil. Tampak pemandangan kontras
antara tangan putih Ayu dan penis hitam pak Tanba.
Insting serta bisikan pak Tanba membuat Ayu dengan segera lancar
mengocok penis itu. Lama lama penis hitam itu semakin besar dan gagah.
Ayu merasakan urat-urat penis Pak Tanba yang besar berdenyut-denyut
seperti hidup.
Pak tanba mendesah, “ ooooh bagus sayang..enak”
Ia lalu memagut bibir Ayu. Keduanya kembali bercipokan dengan penuh
nafsu dan saling menjilat. Tangan kanan Pak tanba tidak menganggur. Ia
segera meraba vagina Ayu, dan memasukan dua jarinya menyentuh vagina
perawan itu.
“ ohhh paaak..enaaak” gumam suara Ayu yang terseumbat oleh cipokan Pak Tanba.
Nafsu dan gairah semakin memuncak antara keduanya. Keringat kembali
mengucur. Setelah merasa penisnya tegak maksimum, Pak Tanba mengehetikan
ciumannya. Ia menidurkan Ayu dan segera membuka kedua kakinya sehingga
mengangkang. Kini lidah dan mulut Pak Tanba bermain menjilati vagina
Ayu. Hal ini membuat Ayu semakin histeris.
“ ooohhh paaak enaaak..”
Sembari menjilati vagina Ayu, tangan Pak tanba mengocok kemaluanya agar
tetap tegak. Setelah dirasakan vagina Ayu kembali basah oleh cairan, Pak
Tanba menghentikan jilatannya. Hal ini sempat membuat Ayu yang akan
segera mencapai orgasme kedua menjadi sedikit kesal. Ia melihat ke Pak
Tanba yang sudah bersiap memasukkan penis besar hitamnya ke vaginanya.
“ Pak gede banget penisnya.. Ayu takuut, “ ujar Ayu saat melihat penis
besar hitam dengan kepala besar milik Pak Tanba. Kepala penis itu
terlihat mengkilat, tanda sudah menampung desakan air mani yang sudah
siap dimuncratkan.
Melihat ketakutan Ayu, Pak Tanba yang matanya sudah merah menahan nafsu, coba tersenyum dan menenangkan.
“ Tahan dan sabar ya Ayu. Awalnya emang sakit, tapi ntar Ayu akan merasa
keenakan oleh penis Bapak, “ ujar Pak tanba yang gemetar menahan nafsu
birahi.
Untuk menenangkan Ayu, Pak Tanba lalu memijat dan membelai vagina Ayu.
Jari Pak tanba menyentuh dan memainkan lubang vagina, serta kelentit
berwarna merah yang sudah bengkak itu. Pak Tanba mencoba menguak vagina
sempit itu, sekilas ia melihat selaput berwarna putih berkabut yang
merupakan selaput dara Ayu.
“ Sebentar lagi aku merenggut kegadisannya, “ ujar Pak tanba dalam hatinya yang berdebar kencang.
Vagina itu sudah terbuka cukup lebar, Tanba lalu mencoba memasukan
kepala penisnya yang besar hitam ke lobang sempit itu. Sentuhan antara
kepala penis dan dinding vagina luar . membuat Ayu dan Pak Tanba merasa
hangat. Bagi Ayu timbul kegelian dan rasa gatal yang amat sangat.
“ aaaaahhh.. “ Ayu mendesah.
“ Sabar ya Ayu.. Tahan sedikit, “ ujar Pak Tanba yang sudah merasa
kepala penisnya telah terapit bibir luar vagina Ayu. Ia lalu mencoba
menekan pantatnya memasukkan penisnya ke vagina Ayu.
“ Acccchhhh sakit paaak, “ jerit Ayu.
Pak Tanba merasa ada yang menolak kepala penisnya untuk masuk lebih jauh. Ia berusaha membuka paha ayu lebar-lebar.
“ ssstt sabar ayu bapak lagi muasin ayu, “ kata Pak tanba di sela nafsunya yang sudah di ubun-ubun.
Pak tanba lalu coba menggesekkan kepala penisnya ke bibir vagina Ayu.
Untuk memberikan rangsangan dan rasa geli. Ayu mendesah. Pak TAnba coba
menekan penisnya. Namun, kembali gagal.
“ Akkkkhh..sakit pak..hentikan” teriak Ayu.
Pak Tanba yang merasa sudah kepalang tanggung, terus berusaha membimbing
penis hitam besarnya untuk masuk ke lubang perawan itu. Memang
memperawani seorang gadis susah. Seolah ada tembok tak terlihat yang
mencoba menghalangi kepala penis Pak Tanba untuk masuk lebh jauh. Pak
Tanba terus berusaha. Keringat membasahi tubuh besar hitamnya, sehingga
terlihat mengkilat. KEgatalan pun dirasakan Ayu. Akhirnya kepala penis
Pak Tanba sudah terjepit sempurna di bibir vagina Ayu. Cairan kemaluan
Ayu turut membantu, namun juga membuat licin. Pak Tanba membulatkan
tekad, lalu dengan hentakan pelan, kepala penis hitam besar itu berhasil
menguak pertahanan vagina perawan Ayu.
“ Akkkhhh paaaak.. Sakitttt” Ayu menjerit kesakitan dan berusaha menolak tubuh Pak Tanba.
Pak Tanba berusaha menenangkan Ayu. Kedua tangan besar berototnya yang
kekar, mencoba menahan paha Ayu agar tidak menutup. Pak Tanba merasa
penisnya dijepit dengan kuat. Ia merasakan sedikit perih di kepala
penisnya, namun ia terus berusaha mendesak agar penisnya semakin masuk
lebih dalam.
“ Aaaah sakiit paaaak, “ ujar Ayu yang saat itu merasakan perih luar
biasa. Rasanya ia sedang disembelih. Ia memejamkan mata berusaha
berontak, air matanya mengalir akibat rasa sakit.
Pak Tanba yang sudah amat bernafsu terus berusaha memasukan penis
besarnya dengan perlahan dan lembut. Ia tahu ukuran penisnya amat besar
bagi vagina Ayu yang masih perawan. Dengan diiringi belaian di paha
bagian dalam Ayu, Pak Tanba terus mencoba mendorong penisnya masuk.
Perlahan-lahan penis itu merangsek masuk. Sedikit demi sedikit.
Dan akhirnya terdengar bunyi “ tas..” seperti bunyi robek.
Saat itulah keperawanan Ayu sudah jebol didesak oleh penis
hitam perkasan Pak Tanba. Terlihat darah merah segar menetes dari vagina
Ayu, serta membasahi batang penis Pak Tanba. Ayu sendrii saat itu
merasa kesakitan dan penuh sesak di lubang vaginanya, padahal penis Pak
Tanba masuk belum setengahnya. Vagina Ayu saat itu terlihat sobek dan
tersumbat batang penis hitam besar milik Pak Tanba. Pak Tanba tahu ini
hal sulit bagi Ayu. Ia sendiri merasakan saat ini penisnya diremas-remas
oleh dinsing perawan yang masih sempit. Lubang itu dirasakan pak Tanba
sangat sempit dan pejal.
Lelaki Ambon tua ini terlihat memejamkan mata, meresapi nikmatnya perawan Ayu. Ayu yang menangis merintih.
“huhuhu.. Pak Tanba jahat.. Ayu sakiiit” ujar gadis itu.
Pak Tanba coba menenangkan Ayu.
“ Sabar Ayu.. Sebentar lagi pasti Ayu merasa keenakan, ooohhh, “ ujar Pak Tanba menikmati jepitan vagina Ayu.
Setelah beberapa lama mendiamkan penisnya, Pak Tanba mulai menarik
perlahan penis besarnya dari vagina Ayu. Tidak sampai terlepas. Kepala
penisnya masih tertanam di vagina Ayu. Pak Tanba lalu mendorong
pantatnya yang hitam, mencoba memasukkan kembali penisnya secara pelan
ke vagina sempit Ayu.
‘OOohhh..” desah Pak Tanba saat menekan kembali penisnya ke lubang vagina Ayu.
Pak Tanba lalu melakukan kegiatan yang sama berulang-ulang, secara
perlahan, memaju mundurkan penis besarnya ke lubang vagina Ayu. Lubang
vagina Ayu terlihat sedang melumat penis hitam besar Pak Tanba. Saat Pak
Tanba menarik penisnya, vagina Ayu terlihat mengerucup. Namun, saat Pak
Tanba menekan penisnya masuk, bibir vagina Ayu terlihat merekah lebar.
Ayu pun perlahan mulai menikmati genjotan penis perkasa Pak Tanba. Ia
yang awalnya menangis, kini mulai mendesah nikmat. Terlebih saat
klitorisnya bergesakan dengan batang penis Pak Tanba. Perlahan penis Pak
tanba mulai lancar memasuki vagina Ayu. Terlihat pemandangan kontras
dari atas saat melihat bagaimana Pak Tanba menyenggamai Ayu. Tubuh hitam
besar yang basah oleh keringat milik Pak Tanba, amat kontras dengan
tubuh putih ramping milik Ayu. Kaki Ayu mengangkang lebar, sementara
lubang vaginanya yang berdarah disumpal penis besar hitam milik Pak
Tanba. Pantat hitam besar milik Pak Tanba tampak berirama pelan
menggenjot tubuh Ayu. Segera saja terdengar lenguhan dan erangan penuh
nafsu keduanya. Ayu yang mulai nikmat matanya terpejam, sementara
mulutnya mendesis dan mendesah. Di sisi lain, Pak tanba merasa penisnya
dijepit dan diremas oleh aktifnya vagina Ayu. Keluar masuknya penis Pak
Tanba, semakin dipermudah oleh darah dan cairan vagina Ayu yang mulai
keluar banyak. Tampak kontras bagaimana vagina sempit Ayu bisa menelan
penis besar hitam berurat milik Pak Tanba. Darah yang keluar dari vagina
Ayu, kini bercampur dengan cairan pelumas vagina Ayu, sehingga warnanya
terlihat merah muda.Pak Tanba sendiri tidak memaksakan penisnya yang
besar untuk masuk seluruhnya ke vagina Ayu. Penis Pak tanba hanya masuk
sepertiganya, masih menyisakan ruang didalam vagina Ayu yang masih
sempit.
‘ ohhhh …aaaahhhh…aaaahh’ begitu desahan yang keluar dari mulut pasangan berbeda kelas itu.
Semakin lama cairan vagina Ayu semakin banyak keluar, seiring dengan
keringat dirinya dan Pak Tanba yang menetes deras. Ayu sudah merasakan
gelombang orgasme akan segera menghampirinya. Genjotan perlahan dan
lembut dari penis Pak Tanba, membuat gadis cantik ini merasakan gatal
yang amat sangat. Semakin lama semakin gatal dan akhirnya membuat gadis
ini tak tahan.
“ AAAHHHHHHHHH…” teriak Ayu saat orgasme mendatanginya dan
cairan vaginanya menyemprot dengan keras, meski tersumbat oleh penis
besar Pak Tanba.
Ayu merasa lemas, mulutnya terbuka dan matanya tinggal terlihat putihnya
saja. Sementara saat Ayu orgasme, Pak Tanba merasa penisnya dijepit dan
diremas dengan amat kuat. Kontraksi dinding vagina Ayu, membuat Pak
Tanba merasa kepala penisnya amat sangat gatal. Pria paruh baya asal
Ambon ini kemudian menggeram bak banteng terluka. Ia mendongakkan
kepalanya ke atas dan memejamkan mata. Ia mendorong penisnya masuk lebih
dalam, tapi karena lubang Ayu masih sempit, hanya mentok sepertiga
penis Pak Tanba.
“ Arrrrgggh Ayuuuu…Argghhhh” Pak Tanba mengejan. Urat di kepala dan
lehernya keluar. Otot tubuhnya mengejang. Tubuh hitam besar Pak Tanba
yang mengkilat karena keringat, tampak sangat gagah dan macho.
Seiring geramannya Pak Tanba memuncratkan air mani yang kental dan
deras. Air mani yang tertahn selama ini akhirnya muncrat akibat jepitan
vagina perawan Ayu.
“crot..crot..crot” Air mani Pak Tanba memuncrat deras,mebasahi rahim dan
mengisi lubang vagina Ayu. Beberapa kali Pak Tanba mengejan dan
menggeram memuncratkan seluruh air maninya. Tampak vagina Ayu tak mampu
menampung curahan air mani kental milik Pak Tanba yang amat banyak.
Terlihat sebagian air mani Pak Tanba keluar dari sela-sela vagina Ayu
yang masih disumbat oleh penis hitam Pak Tanba. Air mani itu bercampur
dengan cairan vagina dan darah perawan Ayu, sehingga tampak cairan merah
muda membasahi batang penis dan seprai tempat tidur Ayu. Kedua insan
ini pun lemas. Suasana kamar yang tadinya riuh rendah oleh desahan, kini
sepi. Pak Tanba kini terbaring lemas di atas tubuh Ayu. Tubuh hitam
besarnya yang mengkilat oleh keringat. Terlihat kontras menindih tubuh
Ayu yang putih. Pak Tanba merasa penisnya menjadi lemas, meski tetap
berada di liang vagina Ayu. Pria tambun ini masih ingin merasakan
jepitan vagina Ayu, sebelum ia mulai menarik penisnya dari vagina Ayu.
“Plop..” seperti suara tutup botol gabus yang terbuka, saat Pak Tanba melepas penisnya.
Tampak batang hitam perkasa itu basah oleh lendir air mani, cairan
vagina dan darah perawan Ayu. Batang itu kini lemas terjuntai.
Pak Tanba lalu bangkit dan merebahkan tubuh besar hitamnya di samping
Ayu, yang masih terpejam lemas. Tangan Pak Tanba mencoba meraih kepala
Ayu, menolehkannya dan mengecup pelan bibirnya. Pria Ambon ini juga
menyeka air mata Ayu yang masih tampak meleleh.
“ Maafkan bapak ya Ayu. Bapak dari tadi coba memperingatkan Ayu. Tapi
Ayu memaksa. Kini Ayu sudah nggak perawan dan mani bapak sudah masuk ke
memek Ayu. Bapak akan bertanggung jawab, “ ujar lelaki patuh baya
jantan ini.
Ayu membuka matanya. Wajahnya terlihat pucat dan lemas, namun masih amat
cantik. Gadis muda ini tersenyum mendengar ucapan Pak Tanba.
“ Ayu gak menyesal pak. Maaf tadi sempat nyuruh bapak berhenti. Ayu
memang kesakitan awalnya, tapi Ayu sangat puas. Ayu bahagia bisa melihat
bapak bisa orgasme lagi. Lagian Ayu merasa amat puas pak. Tapi memang
Ayu sekarang lemes banget. Bapak staminanya hebat, meski udah hampir 50
tahun “ jelas Ayu lemah.
Pak Tanba tersenyum mendengar perkataan Ayu. Pria tua ini lalu mengecup
dan mengulum bibir Ayu pelan. Ayu pun membalasnya dengan lembut.
“ Bapak akan bertanggung jawab bila Ayu hamil. Bapak puas bila Ayu hamil
anak bapak, “ sambung Pak Tanba sambil membelai dan meremas lembut
payudara Ayu.
“ Ayu gak akan hamil dalam waktu dekat Pak. Ayu sudah siap-siap. Tapi Ayu bahagia bapak orangnya tanggung jawab, “ jelas Ayu.
“ Oh syukurlah. Terima kasih sudah menyerahkan keperawanan Ayu ke Bapak, “ sambung Pak Tanba kembali mencium mulut Ayu.
Pak Tanba lalu bangkit dan menuju kulkas. Ayu melihat tubuh
hitam besar lelaki paruh baya sopir taksi ini mengambil minuman dari
kulkas. Saat Pak Tanba berbalik, ia melihat penis hitam besar yang kini
menggantung lemas yang sudah merenggut keperawanannya. Ayu terlihat malu
dan memalingkan wajah.
“ Kenapa malu Ayu? Sekarang penis bapak ini punya Ayu. Terserah mau Ayu
pake lagi atau tidak. Sekarang minum dulu supaya lemasnya hilang, “ ujar
Pak Tanba lembut.
Ayu coba duduk dengan dibantu Pak Tanba. Gadis ini lalu meminum air
putih yang disodorkan lelaki tua ini. Setelah Ayu merasa agak segar, ia
menjawab.
“ Kok Bapak bilang gitu? Ayu bakal selalu butuh bapak. Ayu cuma malu
aja. Belum pernah lihat atau pegang penis pria sebelumnya, “ ujar Ayu
sambil membelai penis itu.
Pak Tanba tertawa.
“ Bapak akan selalu siap. Sekarang Ayu mandi dulu ya, “ ujar Pak Tanba sambil membimbing Ayu berdiri.
Ayu merasakan perih yang amat sangat di vaginanya saat berdiri. Dari
lubang sempit yang kini mulai menganga itu, mengalir air mani bercampur
darah perawan, hasil persetubuhannya dengan Pak Tanba.
Di pintu kamar mandi, ia meminta Pak Tanba melepasnya. Ayu lalu masuk
kamar mandi. Ia menggigit bibir saat air hangat menyentuh tubuh dan
mengenai vaginanya yang luka. Ia lalu meraba Cincin Perawan, dan
merapalkan doa ajaran Mak Endeh. Tiba-tiba hawa dingin mengaliri tubuh
Ayu dan membuatnya segar. Rasa perih di vaginanya pun hilang dalam
sekejap. Ayu melihat luka akibat lesakan penis gagah Pak Tanba di
vaginanya, segera menutup. Seolah belum pernah disenggamai sebelumnya.
Ayu girang. Ucapan Mak Endeh terbukti. Ia masih menjaga keperawanannya
untuk pria lain kelak. Namun, di lubuk hati Ayu, ia sudah merasa
terkesan oleh sikap lembut dan perkasa Pak Tanba. Meski lelaki itu tidak
setara dengannya dan lebih pantas jadi ayahnya, Ayu merasakan kepuasan
atas sikap bertanggung jawab pria paruh baya yang sudah bercucu itu.
Setelah segar akibat mandi, Ayu keluar ke kamar. Dilihatnya seprai
bernoda darah dan air mani akibat persetubuhannya dengan Pak Tanba sudah
dibereskan oleh lelaki Ambon ini. Ayu semakin merasa terkesan. Ia tahu
Pak Tanba merasa lemas akibat sudah memuncratkan banyak mani ke lubang
kemaluannya, tapi lelaki ini bertanggung jawab dan tampak lelah. Sebuah
stamina yang dikagumi Ayu dari lelaki berusia 48 tahun ini.
“Bapak kok ngeberesin tempat tidur?”
“ Nggak enak Ayu, banyak noda mani dan darah. Bapak sudah singkirkan.
Biar tidurnya nanti enak. Ayu sudah segar?” kini Pak tanba yang merasa
heran, akibat Ayu yang sudah tampak segar seperti belum pernah ditiduri.
“ Iya dong. Emang bapak aja yang punya stamina hebat,” kelit Ayu manja
sambil memeluk tubuh besar hitam itu dan mencium bibirnya.
“Bapak segera mandi gih.. Bau. Nanti bapak bisa peluk Ayu, “ ujar Ayu manja.
Pak Tanba tersenyum. Ia senang dengan sikap manja Ayu kepadanya. Tubuh
pria hitam besar pincang itu segera menuju kamar mandi. Segera
terdengar suara mandi. Ayu pun membereskan seprai baru yang harum, serta
menaruh seprai bekas persetubuhannya ke mesin cuci. Ia pun membuatkan
makanan untuk Pak Tanba dan menyiapkan kaos, serta celana pendek boxer
bersih untuknya. Pak Tanba yang sudah mandi dan segar, merasa kagum atas
servis Ayu atas dirinya. Ia merasakan bahwa gadis muda ini jauh lebih
lembut dari istrinya. Segera keduanya makan sambil berbincang ringan.
Setelah selesai makan, jam menunjukkan pukul 12 malam. Tepat dua jam
setelah mereka menikmati malam pertama.
Ayu lalu membimbing tangan Pak Tanba menuju tempat tidur. Keduanya
berciuman sebentar. Ayu pun membaringkan tubuhnya ke tempat tidur. Pak
Tanba lalu melingkarkan tangan kekar berbulunya, memeluk Ayu dari
belakang. Ayu merasa nyaman berada di pelukan lelaki Ambon besar hitam
berkaki pincang itu. Tak lama kemudian mereka berdua tertidur sambil
berpelukan. Dalam hati , Ayu bertekad hanya akan bersetubuh dengan sopir
taksi ini. Meskipun Cincin Perawan memungkinkan ia bersetubuh dengan
pria lain, namun masih perawan.